SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BEKASIEKSPRESS.COM JSCGROUPMEDIA [BEKASIEKSPRESS.COM] WARKOP HARLEX MANGGAR SEDIA KOPI HITAM - KOP SUSU - ANEKA JUS - ANEKA MIE - TEH MANIS & ANEKA KULINER ALAMAT JALAN RAYA SITU KULONG MINYAK MANGGAR DEKAT SITU KULONG MINYAK LALANG MANGGAR BELITUNG TIMUR [BEKASIEKSPRESS.COM] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH NYAMAN & PENUH PESONA [BEKASIEKSPRESS.COM] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [BEKASIEKSPRESS.COM] MEDIA ONLINE RUMAHGADANGNEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [BEKASIEKSPRESS.COM]

Bangka Barat Dorong Diversifikasi Ekonomi Berbasis Potensi Lokal

BekasiEkspress.Com
18 Sep 2026 01:42
9 minutes reading

BekasiEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, memiliki modal ekonomi yang beragam berupa pertambangan timah, perkebunan, perikanan, pariwisata sejarah dan bahari, serta aktivitas UMKM yang dapat dikembangkan sebagai penopang ekonomi daerah secara lebih berkelanjutan. Berdasarkan data BPS, dokumen RPJMD Bangka Barat 2025–2029, serta berbagai kajian dan program pemerintah, pengembangan potensi tersebut menjadi semakin penting di tengah kebutuhan memperkuat ekonomi daerah agar tidak terlalu bergantung pada komoditas timah.

Bangka Barat selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah pertambangan timah di Kepulauan Bangka Belitung. Aktivitas pertambangan masih memiliki arti ekonomi yang besar. Namun, dokumen RPJMD Kabupaten Bangka Barat 2025–2029 juga menempatkan pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai bagian penting struktur ekonomi daerah, sementara pemerintah daerah secara bersamaan mendorong pariwisata, perdagangan, jasa, UMKM dan industri sebagai ruang pertumbuhan baru.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan Bangka Barat sesungguhnya tidak hanya berada di bawah permukaan tanah. Kekayaan laut, perkebunan, budaya, sejarah, bentang alam dan kreativitas masyarakat juga merupakan aset ekonomi yang dapat menghasilkan nilai tambah apabila dikelola secara terintegrasi.

Dari sisi mineral, timah tetap menjadi komoditas utama. Dokumen perencanaan daerah mencatat bahwa sektor pertambangan dan penggalian memiliki kontribusi penting dalam struktur perekonomian Bangka Barat. Selain timah, berbagai dokumen perencanaan dan kajian geologi mencatat keberadaan mineral serta bahan galian lain seperti pasir kuarsa, kaolin, zirkon, granit dan bauksit di sejumlah wilayah Bangka Barat.

Potensi mineral ikutan juga menjadi isu yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan bahwa unsur tanah jarang di Indonesia antara lain ditemukan berasosiasi dengan endapan timah di kawasan Kepulauan Bangka Belitung. Namun, potensi tersebut tidak boleh langsung dipersepsikan sebagai cadangan ekonomis siap dieksploitasi karena eksplorasi, karakterisasi sumber daya dan teknologi pemisahan masih menjadi tahapan penting.

Artinya, kekayaan mineral Bangka Barat harus ditempatkan dalam kerangka pengelolaan sumber daya yang hati-hati. Pengembangan tidak cukup hanya mengejar volume produksi. Nilai tambah, kepastian tata kelola, perlindungan lingkungan, keselamatan kerja dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal harus menjadi bagian dari agenda pembangunan.

See also  TPP Guru Belum Cair, Kepastian Pembayaran Dipertanyakan

Data PT Timah yang diberitakan Bisnis menunjukkan produksi bijih timah perusahaan tersebut secara nasional mencapai 18.635 ton Sn sepanjang 2025, turun dibandingkan 2024. Perusahaan menyebut sejumlah faktor, termasuk masih adanya penambangan ilegal dan penolakan masyarakat terhadap lokasi penambangan baru. Aktivitas pengolahan dan pemurnian PT Timah sendiri juga berlangsung di Muntok, Bangka Barat.

Data itu memberikan gambaran bahwa sektor timah menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Fluktuasi produksi, persoalan tata kelola dan dampak lingkungan membuat diversifikasi ekonomi semakin relevan. Pemerintah daerah tidak harus meninggalkan sektor pertambangan, tetapi perlu memastikan kekayaan tambang berjalan berdampingan dengan pengembangan sektor lain.

Salah satu kekuatan yang memiliki akar sejarah kuat adalah lada putih Muntok atau *Muntok White Pepper*. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual mencatat Muntok White Pepper sebagai indikasi geografis lada putih Kepulauan Bangka Belitung. Wilayah produksinya mencakup Bangka Barat dan sejumlah kabupaten/kota lainnya di Babel.

See also  Polres Landak Tetapkan Dua Tersangka Kasus Pembunuhan Ibu & Anak

Identitas Muntok White Pepper bahkan telah memperoleh perhatian khusus dalam kebijakan daerah. Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat Nomor 10 Tahun 2016 mengatur Hari Muntok White Pepper serta perlindungan dan pemberdayaan petani lada. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa lada bukan sekadar tanaman perkebunan, tetapi juga bagian dari identitas ekonomi dan sejarah masyarakat Bangka Barat.

Namun, data terbaru memperlihatkan tantangan yang harus dijawab. BPS dalam *Kabupaten Bangka Barat Dalam Angka 2025* mencatat luas areal lada pada 2024 sekitar 1.066,55 hektare dengan produksi 181,03 ton. Angka itu turun dibandingkan produksi 2023 yang tercatat 1.581,80 ton. Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa kejayaan lada membutuhkan revitalisasi serius, mulai dari produktivitas kebun, kualitas bibit, teknologi budidaya hingga akses pasar.

Kondisi itu juga sejalan dengan kajian Universitas Bangka Belitung yang menyebut lada putih memiliki citra merek Muntok White Pepper dan telah lama menjadi komoditas perkebunan penting di Bangka Barat. Persoalan pemasaran dan efisiensi rantai distribusi menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar keuntungan petani dapat diperkuat.

Karena itu, revitalisasi lada tidak cukup dengan menambah luas tanaman. Pemerintah dan pelaku usaha perlu mendorong pembenahan dari hulu hingga hilir. Produk lada dapat dikembangkan bukan hanya sebagai komoditas mentah, tetapi juga dalam bentuk produk bernilai tambah, kemasan premium, bahan industri pangan dan produk ekspor dengan identitas geografis yang kuat.

See also  Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Pati Supriyono

Di sektor kelautan, Bangka Barat mempunyai basis ekonomi yang juga sangat menjanjikan. Dokumen RPJMD Kabupaten Bangka Barat mencatat produksi perikanan tangkap meningkat dari 19.341,90 ton pada 2020 menjadi 41.355,35 ton pada 2024. Budidaya air tawar meningkat dari 105,81 ton menjadi 184,23 ton dalam periode yang sama, sedangkan budidaya air laut mencapai 1.051,714 ton pada 2024.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ekonomi laut bukan sekadar pelengkap bagi pertambangan. Perikanan memiliki basis produksi nyata dan dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat apabila dikelola dengan pendekatan berkelanjutan.

Pada 2024, Kecamatan Mentok menjadi salah satu penyumbang terbesar produksi perikanan tangkap dengan 11.486,37 ton, disusul Parittiga 8.584,55 ton dan Tempilang 8.484,64 ton. Data tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi kelautan tersebar di sejumlah wilayah dan memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat pesisir.

Potensi itu membuka ruang bagi pengembangan industri pengolahan hasil laut. Ikan, udang dan komoditas perairan lainnya tidak harus berhenti sebagai hasil tangkapan segar. Produk tersebut dapat diolah menjadi makanan siap konsumsi, makanan beku, ikan kering, produk kemasan, hingga komoditas bernilai tambah yang mampu menembus pasar lebih luas.

Upaya tersebut sudah mulai terlihat melalui penguatan UMKM berbasis hasil perikanan. Pada Agustus 2026, misalnya, PT Timah memfasilitasi pelatihan bagi pelaku UMKM Bangka Barat untuk mengolah ikan nila dan udang bayi kering menjadi produk bernilai ekonomi. Program tersebut menunjukkan pentingnya menghubungkan sumber daya lokal dengan inovasi usaha masyarakat.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x