Foto ; dok/antara*Dengan demikian, masa depan Bangka Barat tidak harus dipertentangkan antara tambang atau non-tambang. Pilihan yang lebih konstruktif adalah membangun ekonomi yang lebih beragam, dengan pertambangan yang dikelola sesuai ketentuan, sementara pertanian, lada, perikanan, pariwisata, industri pengolahan dan UMKM terus diperkuat.
Kekayaan Bangka Barat adalah modal. Timah memberi sejarah industri. Lada memberikan identitas. Laut menyediakan pangan dan mata pencaharian. Menumbing dan Wisma Ranggam menyimpan cerita sejarah bangsa. Tradisi Tempilang menjaga identitas budaya. Sementara UMKM dan generasi muda membawa peluang inovasi.
Tantangannya sekarang adalah mengubah potensi tersebut menjadi nilai tambah yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Jika pengelolaan dilakukan secara konsisten, berbasis data, melibatkan masyarakat dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan, Bangka Barat memiliki peluang membangun ekonomi yang lebih tangguh. Bukan ekonomi yang bergantung pada satu komoditas, melainkan ekonomi yang bertumpu pada banyak kaki.
Transformasi tersebut membutuhkan kerja bersama pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, pelaku UMKM dan generasi muda. Setiap sektor mempunyai peran, dan setiap desa memiliki potensi yang dapat dikembangkan.
Bangka Barat pada akhirnya tidak kekurangan modal pembangunan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengolah kekayaan alam, budaya dan manusia menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dari Muntok hingga seluruh pelosok daerah. | BekasiEkspress.Com | */Rdaksi | *** |


No Comments