SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BEKASIEKSPRESS.COM JSCGROUPMEDIA [BEKASIEKSPRESS.COM] WARKOP HARLEX MANGGAR SEDIA KOPI HITAM - KOP SUSU - ANEKA JUS - ANEKA MIE - TEH MANIS & ANEKA KULINER ALAMAT JALAN RAYA SITU KULONG MINYAK MANGGAR DEKAT SITU KULONG MINYAK LALANG MANGGAR BELITUNG TIMUR [BEKASIEKSPRESS.COM] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH NYAMAN & PENUH PESONA [BEKASIEKSPRESS.COM] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [BEKASIEKSPRESS.COM] MEDIA ONLINE RUMAHGADANGNEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [BEKASIEKSPRESS.COM]

Rajo Ameh : Indonesia Perlu Tiga Kapal Induk Ringan

BekasiEkspress.Com
19 Sep 2026 06:04
Headline Ragam 0 147
8 minutes reading

Kapal tersebut juga melewati Colombo sebelum memasuki Indonesia. India dan Indonesia sendiri memiliki hubungan kerja sama maritim yang terus berkembang.

Pada April 2026, kapal Angkatan Laut India INS Sunayna mengunjungi Jakarta dalam kerangka IOS SAGAR, sebuah inisiatif India yang melibatkan sejumlah negara mitra di kawasan Samudra Hindia.

Namun, belum terdapat dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa India secara resmi menganggap keberadaan Garibaldi sebagai ancaman atau bahwa India akan menyesuaikan postur militernya sebagai respons langsung terhadap kapal tersebut.

Hubungan maritim India-Indonesia yang terdokumentasi justru menunjukkan adanya kerja sama dan interaksi profesional antara kedua angkatan laut.

Karena itu, analisis mengenai reaksi India perlu dibedakan dari fakta hubungan bilateral yang sudah berlangsung.

Hal serupa berlaku terhadap klaim bahwa kedatangan Garibaldi secara otomatis menggeser peta kekuatan Asia Tenggara. Secara faktual, Indonesia kini memperoleh kapal yang sebelumnya dioperasikan Italia dan akan menjadi kapal induk pertama TNI AL.

See also  Bangka Barat Dorong Diversifikasi Ekonomi Berbasis Potensi Lokal

ANTARA mencatat kapal tersebut sebagai kapal induk pertama Indonesia. Tetapi kemampuan sebuah kapal tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi perubahan menyeluruh dalam keseimbangan kekuatan kawasan.

Rajo Ameh juga menyinggung perlunya Indonesia memperhatikan keseimbangan arah pertahanan kawasan, termasuk terhadap Australia.

Ia mengatakan apabila sebagian kemampuan rudal dan artileri berat selama ini diarahkan untuk menghadapi ancaman di kawasan tertentu, maka menurut pandangannya Indonesia juga perlu memikirkan keseimbangan pertahanan di arah atau kawasan lainnya demi melindungi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kalau rudal dan artileri berat kita saat ini sudah menghadap Selat Malaka, kita juga perlu memikirkan keseimbangan pertahanan ke arah selatan Indonesia yang berhadapan dengan Australia,” katanya.

Yang lebih jelas, tantangan Indonesia setelah kedatangan Garibaldi justru berada pada tahap berikutnya: bagaimana kapal tersebut diintegrasikan secara efektif dengan kekuatan yang sudah ada.

See also  Kajari OKU Timur Ikuti Penguatan Kepemimpinan Nasional

Tiga fregat yang mengawal Garibaldi ketika memasuki Indonesia—KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 sebagai dua unsur pengawal yang disebut TNI AL, serta unsur lain dalam konteks pengamanan—menunjukkan pentingnya kemampuan pengawalan bagi kapal bernilai strategis.

Jika Indonesia suatu saat mempertimbangkan penambahan kapal induk ringan, pertanyaan strategisnya bukan hanya berapa unit yang harus dibeli, melainkan untuk misi apa kapal tersebut digunakan, bagaimana biaya siklus hidupnya ditanggung, bagaimana kesiapan awak dipenuhi, bagaimana kapal memperoleh perlindungan dan dukungan logistik, serta bagaimana kapal itu diintegrasikan dengan fregat, kapal selam, pesawat patroli maritim, drone, satelit dan sistem pertahanan lainnya.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, aspek kemanusiaan juga tidak boleh dikesampingkan.

Pemerintah sendiri menempatkan kemampuan Garibaldi untuk membantu bencana dan distribusi logistik sebagai salah satu fungsi yang diprioritaskan.

See also  Viral Bakar 13 Sertifikat, Siswi Protes Jalur Prestasi

Dengan kemampuan mengoperasikan sejumlah helikopter, kapal tersebut dapat menjadi salah satu platform pendukung ketika akses darat atau bandara terganggu akibat bencana.

Pada akhirnya, gagasan Rajo Ameh mengenai tiga kapal induk ringan dan sembilan fregat menambah warna dalam perdebatan publik mengenai masa depan pertahanan maritim Indonesia.

Gagasan tersebut dapat dibaca sebagai usulan mengenai pemerataan kemampuan di wilayah barat, tengah dan timur, tetapi belum dapat diperlakukan sebagai rencana resmi pemerintah.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x