SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BEKASIEKSPRESS.COM JSCGROUPMEDIA [BEKASIEKSPRESS.COM] WARKOP HARLEX MANGGAR SEDIA KOPI HITAM - KOP SUSU - ANEKA JUS - ANEKA MIE - TEH MANIS & ANEKA KULINER ALAMAT JALAN RAYA SITU KULONG MINYAK MANGGAR DEKAT SITU KULONG MINYAK LALANG MANGGAR BELITUNG TIMUR [BEKASIEKSPRESS.COM] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH NYAMAN & PENUH PESONA [BEKASIEKSPRESS.COM] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [BEKASIEKSPRESS.COM] MEDIA ONLINE RUMAHGADANGNEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [BEKASIEKSPRESS.COM]

Santiong Ternate, Jejak Komunitas Tionghoa di Jalur Rempah

BekasiEkspress.Com
23 Sep 2026 08:02
8 minutes reading

Kelenteng itu kini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga salah satu bagian dari sejarah dan daya tarik budaya Kota Ternate.

Di sisi lain, terdapat jejak komunitas Tionghoa Muslim melalui Sigi Cim, yang sekarang dikenal sebagai Masjid An-Nur Sigi Cim.

Dinas Kebudayaan Kota Ternate mencatat bahwa sejak masa perdagangan rempah, sebagian pedagang Tionghoa menetap, memeluk Islam dan membaur dengan masyarakat Melayu-Ternate.

Sigi Cim disebut menjadi salah satu bukti hubungan sosial-keagamaan komunitas tersebut dengan lingkungan Kesultanan Ternate.

Sejarawan Irfan Ahmad juga pernah menjelaskan bahwa hubungan komunitas Tionghoa dengan masyarakat Ternate berlangsung dalam berbagai bentuk.

Salah satu kisah yang berkaitan langsung dengan Santiong adalah mengenai dua bersaudara keturunan Tionghoa, Nya Eng dan Nya Kem, yang disebut telah memeluk Islam dan pada 1959 menghibahkan sebagian tanahnya untuk kepentingan masyarakat, termasuk kawasan yang berkaitan dengan Santiong dan Sigi Cim.

See also  Dalih Pinjaman Rp8,5 Miliar Mengemuka di Sidang Korupsi Bekasi

Kisah tersebut dikutip dari keterangan sejarawan lokal dalam pemberitaan Kumparan.

Keterangan mengenai tanah tersebut juga memperlihatkan bahwa perubahan wajah Santiong merupakan proses sejarah yang panjang. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai area pemakaman kemudian mengalami perkembangan menjadi ruang permukiman.

Dalam satu laporan, Yayasan Cahaya Bhakti menyebut lahan yang pernah dimiliki keluarga tersebut mencapai 17 hektare dan sekitar 10 hektare disebut telah dihibahkan untuk tiga wilayah, yakni Santiong, Kalumpang dan Kampung Makassar.

Angka dan riwayat kepemilikan tersebut merupakan keterangan yayasan dan sebaiknya tetap dibaca sebagai data historis yang memerlukan pencocokan dengan arsip pertanahan.

Penelitian mengenai tata kota Ternate juga mencatat bahwa kompleks pemakaman China, Belanda dan komunitas Nasrani pernah berada dalam kawasan yang berkaitan dengan Santiong.

Kajian tersebut menunjukkan bagaimana ruang kota Ternate terbentuk dari perjumpaan berbagai kelompok etnis, agama dan kepentingan ekonomi.

See also  Anies Punya Program Baru di YouTube, #daripendopo, Apa Itu?

Hal ini menjadikan Santiong bukan sekadar kawasan permukiman. Nama kampung tersebut dapat dibaca sebagai arsip sosial dalam bentuk toponim.

Ketika sebuah nama bertahan selama beberapa generasi, nama itu membawa ingatan mengenai fungsi ruang, kelompok masyarakat yang pernah tinggal di sana, dan perubahan kota dari masa ke masa.

Perjalanan sejarah itu juga menjelaskan mengapa Ternate sejak awal memiliki karakter masyarakat yang beragam.

Sebagai kota pelabuhan rempah, Ternate berhubungan dengan orang Arab, Gujarat, Melayu, Jawa, Makassar, China serta kemudian bangsa-bangsa Eropa.

Pemerintah Kota Ternate sendiri pernah menggelar diskusi jalur rempah dengan menghadirkan sejarawan Universitas Khairun Irfan Ahmad, Prof. Gufran Ali Ibrahim, akademisi Aji Deni, sejarawan IAIN Ternate Usman Nomay dan sejumlah ahli lainnya untuk memperkuat kajian Ternate sebagai bagian dari sejarah Jalur Rempah.

See also  Guru SD di Jeneponto Diduga Dianiaya Orang Tua Murid

Karena itu, sejarah Santiong sebaiknya tidak dipersempit menjadi cerita tentang “kampung kuburan Cina”. Maknanya jauh lebih luas.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x