SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BEKASIEKSPRESS.COM JSCGROUPMEDIA [BEKASIEKSPRESS.COM] WARKOP HARLEX MANGGAR SEDIA KOPI HITAM - KOP SUSU - ANEKA JUS - ANEKA MIE - TEH MANIS & ANEKA KULINER ALAMAT JALAN RAYA SITU KULONG MINYAK MANGGAR DEKAT SITU KULONG MINYAK LALANG MANGGAR BELITUNG TIMUR [BEKASIEKSPRESS.COM] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH NYAMAN & PENUH PESONA [BEKASIEKSPRESS.COM] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [BEKASIEKSPRESS.COM] MEDIA ONLINE RUMAHGADANGNEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [BEKASIEKSPRESS.COM]

Santiong Ternate, Jejak Komunitas Tionghoa di Jalur Rempah

BekasiEkspress.Com
23 Sep 2026 08:02
8 minutes reading

Kajian akademik lain juga menggambarkan pemerintahan Sida Arif Malamo sebagai periode penting dalam pertumbuhan Ternate menjadi bandar niaga.

Para pedagang China, Arab, Gujarat, Jawa, Malaka dan Makassar disebut mulai berdagang, menetap atau membangun pos perdagangan. Ternate kemudian berkembang sebagai salah satu simpul perdagangan internasional di kawasan Maluku.

Dengan demikian, kedatangan masyarakat Tionghoa tidak semata-mata dapat dibaca sebagai migrasi dalam pengertian modern. Pada tahap awal, mereka merupakan bagian dari mobilitas perdagangan maritim Asia.

Cengkeh menjadi salah satu daya tarik utama. Barang dari Maluku dibawa melalui jaringan perdagangan yang panjang, sementara pedagang dari kawasan lain membawa berbagai komoditas, termasuk tekstil, barang kebutuhan, dan produk manufaktur.

Catatan sejarah perdagangan Asia yang dirangkum dalam kajian Anthony Reid menunjukkan bahwa kapal-kapal China telah berhubungan dengan Maluku pada abad ke-14.

Bahkan terdapat catatan mengenai kunjungan kapal China pada sekitar dekade 1340-an untuk memperoleh cengkeh.

See also  Wakil Kepala SMA Garuda Dorong Prestasi & Inovasi Akademik

Dalam perkembangan berikutnya, perdagangan cengkeh dari Maluku juga berlangsung melalui perantara Jawa dan Melayu sebelum mencapai pasar China.

Artinya, hubungan China-Maluku bukan hubungan yang tiba-tiba muncul setelah Portugis atau Belanda datang. Ia merupakan bagian dari jaringan perdagangan Asia yang sudah terbentuk lebih dahulu.

UNESCO dalam pengajuan Jalur Rempah Indonesia juga menempatkan Maluku dan Ternate dalam sejarah panjang jaringan perdagangan rempah yang mempertemukan masyarakat Nusantara dengan pedagang dari China, Timur Tengah dan kawasan lain.

Jejak hubungan tersebut kemudian masuk lebih dalam ke struktur sosial-politik Ternate.

Salah satu catatan yang paling menarik adalah mengenai seorang Tionghoa yang pada 1599 disebut memperoleh jabatan sebagai syahbandar di Pelabuhan Talangame pada masa pemerintahan Sultan Saidi.

Informasi ini disampaikan oleh sejarawan Irfan Ahmad dan diberitakan oleh media lokal Maluku Utara.

See also  Donasi YTR Tembus Rp2 Miliar, Hotman Kawal Hingga Tuntas

Catatan tersebut penting karena syahbandar bukan sekadar pedagang biasa. Dalam sistem kerajaan maritim, syahbandar memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara penguasa dan aktivitas perdagangan pelabuhan.

Karena itu, jika catatan mengenai syahbandar Tionghoa pada 1599 tersebut benar, fakta itu menunjukkan bahwa hubungan komunitas Tionghoa dengan Kesultanan Ternate telah memasuki tingkat kelembagaan yang lebih jauh daripada sekadar transaksi jual beli.

Pada masa berikutnya muncul pula jabatan Kapita Cina, yang berfungsi sebagai pemimpin atau perwakilan komunitas Tionghoa.

Sejumlah sumber lokal mengaitkan perkembangan jabatan tersebut dengan masa Sultan Hamzah, sekitar 1627–1648. Jabatan itu memperlihatkan adanya mekanisme hubungan antara komunitas pendatang dan struktur kekuasaan Kesultanan.

Namun, sejarah komunitas Tionghoa Ternate tidak berhenti pada perdagangan dan pemerintahan. Jejaknya juga terlihat melalui kehidupan keagamaan dan kebudayaan.

See also  SDN 03 Aur Tajungkang Raih Harapan II Lomba Asmaul Husna

Kelenteng Thian Hou Kiong menjadi salah satu simbol penting keberadaan masyarakat Tionghoa di Ternate. RRI mencatat kelenteng tersebut pertama kali dibangun pada 1657 dan kemudian dipugar pada 2007.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x